ghl-kan_r.jpg

Google Ads 3

Bentang Alam Hutan Utuh (Intact Forest Landscape-IFL)

 

Secara teknis, Bentang Hutan Utuh (IFL) didefinisikan sebagai wilayah dalam cakupan hutan global saat ini yang mengandung ekosistem hutan dan non-hutan yang secara minimal dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi manusia, dengan luas setidaknya 500 km2 (50.000 ha) dan lebar minimal 10 km (diukur sebagai diameter lingkaran yang seluruhnya ditorehkan dalam batas-batas wilayah).  Sedangkan areal yang merupakan hasil kegiatan manusia tertentu dianggap terganggu dan akibatnya tidak memenuhi syarat untuk dimasukkan dalam IFL seperti:

  • Permukiman (termasuk zona penyangga 1 km);
  • Infrastruktur yang digunakan untuk transportasi antar permukiman atau untuk pengembangan industri sumber daya alam, termasuk jalan (kecuali jalur yang tidak beraspal), kereta api, jalur air yang dapat dilalui (termasuk pantai), jaringan pipa, dan saluran transmisi listrik (termasuk dalam semua kasus zona penyangga 1 km di kedua sisi);
  • Pertanian dan produksi kayu;
  • Kegiatan industri selama 30-70 tahun terakhir, seperti penebangan, penambangan, eksplorasi dan ekstraksi minyak dan gas, ekstraksi gambut, dll.

Pulau Buru di mana lokasi konsesi PT GHL berada memiliki lokasi bentang hutan utuh (IFL) yaitu daerah yang saat ini tumpeng tindih-overlap dengan Hutan Lindung Kepala Mada yang ada di antara konsesi PT GHL (lihat Gambar 1) dan sebagian masuk kawasan konsesi PT Gema Hutani Lestari (PT GHL).  Luas bentangan hutan alam ini seluas 108.456 hektar dimana seluas 12.665 hektar masuk ke dalam konsesi PT GHL.  Dari areal seluas 12.665 hektar tersebut yang masuk konsesi PT GHL seluas 2.799 hektar diantaranya adalah kawasan inti (NKT 2.1) yang berfungsi untuk menjaga proses dan dinamika ekologi secara alami berlangsung dan berpotensi untuk tetap berjalan dalam jangka panjang di masa mendatang.   

Kunci utama dari pendekatan ini adalah untuk mengidentifikasi dan melindungi daerah inti (core area) dari lansekap, yang didefinisikan sebagai areal yang dicadangkan/diperlukan untuk menjamin bahwa proses ekologi alami dapat berlangsung tanpa gangguan akibat fragmentasi dan pengaruh daerah bukaan (edge effect). Daerah inti ditentukan berdasarkan ukurannya (>20.000 ha) ditambah dengan daerah penyangga (buffer) yang ada di sekitarnya yaitu paling sedikit tiga (3) km dari daerah bukaan.

 

 

Gambar 1.  Overlay Areal Kerja PT GHL dengan Intact Forest Landscape di  Pulau Buru, Maluku

 

 

 

Google Ads 2